Ini Dia Pola Makan Rasulullah SAW yang Seharusnya ditiru Oleh Setiap Muslim

Ini Dia Pola Makan Rasulullah SAW yang Seharusnya ditiru Oleh Setiap Muslim

PadangGuci.comPola makan Rasulullah Saw memang merupakan pola makan terbaik yang pernah ada di dunia. Hal ini bukan sekedar klaim umat islam semata, melainkan sudah diteliti oleh para pakar dan ahli kesehatan di dunia sejak dulu hingga sekarang.

Fakta sejarah membuktikan bila nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam merupakan pribadi terbaik yang jarang sakit. Beliau sakit hanya 2 kali seumur hidupnya, yaitu sakit yang dialami akibat diracun oleh musuh Islam dan sakit yang diderita sebelum wafat.

Salah satu pakar kedokteran dan biofisika muslim, yaitu Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid dalam bukunya at-Taghdziyah an-Nabawiyah, al-Ghadza baina ad-Daa wa ad-Dawa menjelaskan dengan sangat lengkap bagaimana Rasulullah SAW menerapkan pola makannya yang sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah.

Buku yang sudah diterbitkan di Indonesia oleh penerbit Almahira dengan judul “Pola Makan Rasulullah” berisi 20 prinsip pola makan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW semasa beliau masih hidup. Bila selama ini kita hanya makan dan makan saja tanpa adanya aturan yang jelas, sehingga menyebabkan berbagai masalah dan gangguan kesehatan, maka Insya Allah dengan menerapkan pola makan ala Nabi Muhammad SAW berbagai gangguan kesehatan dapat kita hindari.

Adab dan Cara Makan Rasulullah SAW

Berikut ini 20 adap dan pola makan ala Rasulullah SAW yang seharusnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari yang diringkas dari buku at-Taghdziyah an-Nabawiyah, al-Ghadza baina ad-Daa wa ad-Dawa yang ditulis oleh Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid.

1. Dimulai Dengan Basmalah dan Ditutup Dengan Hamdalah

Rasulullah SAW saat akan makan selalui memulianya dengan membaca Basmalah terlebih dahulu. Saat selesai makan mengucapkan Hamdalah.

Membaca Basmalah dan Hamdalah memliki hikmah yang sangat besar bagi seorang muslim. Salah satu hikmah yang terkandung saat memulai makan dengan membaca basmalah dan mengakhirinya dengan lafash hamdalah adalah agar kita senantiasa ingat bahwa makanan yang disantap semuanya merupakan rizki dari Allah SWT.

Hikmah lainnya sebagai muslim akan senantiasa menghindari perilaku berlebih-lebihan. Tujuan makan adalah sebagai sarana menambah kekuatan untuk menuju ketaatan kepada Allah, memakmurkan bumi dan menaburinya dengan kebaikan.

2. Mencuci Tangan

Jauh sebelum ilmu kesehatan era modern mengenalkan akan pentingnya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, Rasulullah sudah meneladankan terlebih dahulu bagaimana cara makan yang baik dan sehat dengan mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan. Dan setelah selesai makan tangan juga di cuci bersih.

Nabi bersabda:

”Barangsiapa tertidur sedang di kedua tangannya terdapat bekas gajih, lalu ketika bangun pagi dia menderita suatu penyakit, maka hendaklah dia tidak mencela melainkan dirinya sendiri”.

Nabi sendiri jika hendak makan selalu mencuci tangan terlebih dahulu, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Nasa’i dari Aisyah ra.

3. Tidak Rakus dan Berlebihan

Makan adalah kewajiban. Dengan makan seorang muslim memperoleh kekuatan untuk beribadah. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah ibn Umar:

”Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak yang harus kamu penuhi”.

Namun demikian kita harus ingat batasan dalam mengkonsumsi makanan, yaitu menjauhi sikap berlebihan dan rakus.

Banyak sekali dalil yang menekankan hal ini. Allah dalam surat al-A’raf ayat 31 berfirman:

”Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Dan juga di surat Thaha ayat 81:

”Makanlah diantara rezeki yang baik yang telah Kami berikan pada kalian, dan janganlah melampaui batas padanya”.

Sementara Rasulullah saw sendiri telah memerintahkan untuk mengatur waktu makan dan berpegang teguh pada etika, sebagaimana sabda Beliau:

”Kami adalah orang-orang yang tidak makan kecuali setelah lapar, dan bila makan kami tidak sampai kenyang”.

Beliau juga bersabda:

”Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalau dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Muslim).

Maksudnya sebenarnya makanan dalam porsi minimal pun sudah cukup baginya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Darimi, Rasulullah saw juga bersabda:

”Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang sebenarnya cukup untuk delapan orang”.

Dalam hadits lain disebutkan:

”Sesungguhnya termasuk sikap berlebih-lebihan bila kamu memakan segala sesuatu yang kamu inginkan”. (HR Ibnu Majah)

Beliau pun bersabda:

”Seorang mukmin makan dengan satu usus, sementara orang kafir makan dengan tujuh usus”. (HR. Muslim, Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah)

4. Makan Dengan Menggunakan Tiga Jari

Dengan tiga jari berarti kita telah bersikap seimbang. Sebagaimana dikatakan bahwa makan dengan lima jari menunjukkan kerakusan, sedangkan makan dengan satu atau dua jari menunjukkan kesombongan dan keangkuhan.

5. Posisi Duduk Tegak Lurus dan Tidak Bersandar

Rasulullah melarang seseorang makan sambil bersandar karena membahayakan kesehatan dan mengganggu pencernaan lambung.

6. Minum Dengan 3 Kali Tegukan

Saat minum Rasulullah selalu dalam posisi duduk dan tidak bernafas dalam gelas.

Nabi mengajarkan minum dengan menyesap (minum air dengan menempelkan bibir ke air), bernafas di luar gelas serta tidak minum dengan cara menenggak. Maksudnya adalah mencegah masuknya udara ke dalam lambung.

Ubay bin Ka’ab berkata:

”Nabi saw tidak pernah meniup makanan dan minuman, tidak bernafas di dalam wadah. Bahkan beliau melarang meniup makanan dan minuman”.

Nabi saw biasa minum dengan tiga kali teguk, sambil bernafas di antara tiga kali tegukan di luar gelas dan bukan di dalamnya.
Diriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bernafas tiga kali saat minum. Beliau bersabda:

”Sungguh, ini lebih mengenyangkan, menyembuhkan, dan menyegarkan”. (HR Bukhari dan Muslim)

Anas juga berkata:

”Rasulullah saw telah melarang minum sambil berdiri”. (HR Muslim)

Ibnu Abbas menambahkan:

”Rasulullah saw telah melarang minum dari mulut poci”. (HR Bukhori dan Ibnu Majah)

7. Makan buah-buahan sebelum makan daging (makanan utama)

Hal ini sebagai upaya untuk mengikuti apa yang dilakukan para penghuni surga. Dalilnya adalah Qur’an surat al-Waqi’ah ayat 20-21:

”Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan”.

8. Menutup makanan dan minuman di atas meja

Nabi mewajibkan menutup makanan untuk melindunginya dari pencemaran, sebagaimana dinyatakan dalam hadits Nabi SAW :

”Tutuplah bejana”. (HR. Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah)

Dalam riwayat Bukhari disebutkan:

”Tutuplah makanan dan minuman”.

Rasulullah saw bersabda:

”Tutuplah wadah tempat makanan dan minuman, karena dalam satu tahun ada satu malam yang di malam itu turun wabah dari langit. Wabah itu tidak menjumpai wadah yang terbuka melainkan akan ada sebagian dari wabah itu yang mengenai wadah itu”.

9. Mencuci mulut (berkumur) sebelum dan setelah makan

Hal ini dimaksudkan untuk membersihkan gigi dari sisa makanan dan bakteri. Secara khusus beliau menekankan pentingnya berkumur setelah minum susu:

”Berkumurlah kalian setelah minum susu, karena di dalamnya mengandung lemak”. (HR. Ibnu Majah)

10. Suplemen makanan terbaik adalah madu

Rumah Nabi tidak pernah kehabisan madu. Nabi juga menganjurkan untuk meminum madu secara teratur. Nabi bersabda:

”Hendaklah kalian meminum madu”.

Adapun Nabi mengajarkan bahwa cara terbaik meminum madu adalah dengan melarutkan satu sendok madu dengan air yang tidak dingin dan diaduk dengan baik.

11. Tidak memasukkan makanan pada makanan

Ada dua pendapat mengenai maksud dari memasukkan makanan pada makanan.

  • Pendapat pertama adalah kita dilarang makan kecuali setelah dua jam dari waktu makan berat.
  • Pendapat kedua adalah kita dilarang menyuap makanan ke dalam mulut pada saat masih ada makanan di dalamnya.

Dunia kedokteran modern membuktikan bahwa kedua hal tersebut memang berdampak negatif pada kesehatan

12. Menjilati jari dan tempat makan

Menjilati tempat bekas makan akan sangat membantu pencernaan. Rasulullah saw sendiri menjilati jemari beliau setelah makan. Beliau bersabda:

”Apabila salah seorang di antara kalian selesai makan, hendaklah dia tidak membersihkan tangannya sehingga menjilatinya”. (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Tabrani)

Hal itu menunjukkan adanya perintah untuk tidak meninggalkan sisa makanan di tempat makan. Juga diriwayatkan Turmudzi dengan lafaz:

”Barangsiapa makan di piring, lalu ia menjilatinya, maka piring itu akan memohonkan ampun untuknya”. (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad)

13. Tidak menggabungkan beberapa jenis makanan

Nabi melarang menggabungkan antara susu dan ikan, cuka dan susu, cuka dan ikan, buah dan susu, cuka dan nasi, delima dengan tepung, kubis (kol) dengan ikan, bawang putih dengan bawang merah, makanan lama dengan makanan baru, makanan asam dengan makanan pedas, makanan panas dengan makanan dingin.

14. Tidak tidur setelah makan

Nabi menganjurkan seseorang berjalan-jalan setelah makan malam. Tapi bisa juga digantikan oleh shalat. Hal ini dimaksudkan agar makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan tepat sehingga bisa dicerna dengan baik.

Diriwayatkan dari Anas:

”Makan malamlah sekalipun hanya dengan kurma kering (yang rusak), karena meninggalkan makan malam dapat mempercepat penuaan”.

15. Makan bersama-sama dan tidak sendiri-sendiri

Hal ini menyebarkan sekaligus menciptakan nuansa penuh kasih sayang dan rasa saling mencintai yang tentunya akan memberi nilai positif bagi selera makan.

16. Makan sambil berbincang dan tidak diam

Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana rileks dan  menyenangkan saat makan.

17. Tidak mencela makanan

Menghormati budaya dan tradisi makan yang ada di tempat kita makan. Dilarang menghina atau membenci makanan, sekalipun makanan itu di luar kebiasaan kita.

18. Tidak memaksa orang sakit

Bersikap lembut terhadap orang sakit dengan tidak memaksakan makanan tertentu.

19. Tidak membelakangi orang lain

Menjaga perasaan orang lain dengan tidak membelakangi posisi mereka. Hal ini bisa menyebabkan terganggunya selera makan orang tersebut.

20. Mengkonsumsi makanan yang aman

Makanan yang aman dimaksudh disini adalah makanan yang terlalu panas dan minuman yang terlalu dingin. Makanan yang terlalu panas atau terllau dingin dapat menyebabkan berbagai masalah bagi kesehatan pencernaan karena itu sangat tidak aman.


Hal-hal yang seharusnya dihindari saat makan

Sementara itu dalam buku ”Muhammad Seorang Milyuner” karya Dr. Ali Syu’aibi (2004), pada bagian ketiga kita bisa menemukan setidaknya tiga anjuran Rasulullah berkaitan dengan pola makan:

1. Tidak memakan daging setiap hari, melainkan berselang hari

Diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dari Aisyah ra, dia mengatakan bahwa bagian lengan atas adalah daging yang paling disukai Nabi. Namun beliau tidak memakan daging setiap hari. Maka yang tersisa ditangguhkan untuk keesokan harinya.

2. Tidak memakan buah pada saat baru sembuh dari sakit

Diriwayatkan dari Ummu Al-Mundzir binti Qais, seorang wanita Anshar, dia mengatakan: ”Rasul datang kepadaku bersama Ali yang waktu itu baru sembuh dari sakit. Kebetulan waktu itu kami punya buah yang masih tergantung di pohonnya. Rasul pun berdiri dan dan memetik buah dan memakannya. Ali juga ikut memetik, namun ketika akan memakannya, Rasul mencegah seraya berkata: “Jangan Ali, kamu baru sembuh dari sakit”. Ali pun mengurungkan niatnya. Maka aku membuat roti dan makanan yang direbus dan membawakannya pada mereka. Maka Rasul pun berkata pada Ali: “Makanlah ini. Ini lebih baik untukmu”. (HR. Abu Dawud)

3. Tidak pernah menolak undangan makan, bahkan jika yang dihidangkan nilainya sangat murah

Rasul tidak pernah menolak undangan makan apapun selama makanan yang dihidangkan itu halal, meskipun makanan itu sangat murah. Beliau berkata: “Jika kalian diundang untuk menghadiri jamuan makan, maka hadirilah. Kalau suka makanlah, kalau tidak, tinggalkan”. (HR. Abu Dawud)

Sebagaimana Rasul juga pernah mengatakan: “Kalau aku diundang untuk menghadiri suatu jamuan, meskipun yang dihidangkan hanya kaki atau tangan, aku akan datang. Begitu juga kalau aku diberi hadiah tangan atau kaki, aku pasti menerimanya”. (HR. Bukhori).

Itulah pola dan tata cara makan Rasulullah SAW yang seharusnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak hanya kesehatan saja yang terjaga, tapi juga dapat berbuah pahala. Terima kasih




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *